Di RS Hermina Depok, Tidak Pakai Masker Bedah Dilarang Masuk


 


Ini hari agenda kontrol saya di RS Hermina Depok dengan dr Budi H Siregar SpB(K) Onk, dokter ahli bedah serta onkologi. Semestinya sore, tetapi rupanya agenda dr Budi dimajukan jadi jam 13.

Main Togel Tidak Ribet Seperti Kata Orang

Sukurlah, faksi Hermina menghubungi saya menginfokan ini waktu saya tengah rileks bersandarkan bantal dalam tempat tidur sekalian menulis.


"Ini dengan Ibu Tety," suara ramah wanita waktu menghubungi dari nomor yang tidak saya mengenal, bukan nomor yang umum saya contact.


"Iya, saya sendiri," jawab saya.


"Ibu ini hari agenda kontrol dengan dr Budi ya bu," bertanya petugas.


"Iya, agendanya sore kan?" bertanya saya pastikan.


"Itu ia bu, minta maaf, agenda dr Budi dimajukan jam 13. Jadi, jika dapat ibu selekasnya ya kesini untuk pemberkasan," tuturnya.


"Oh, demikian. Baik sus," kata saya. Jam memperlihatkan jam 11.16. Jadi pasien BPJS Kesehatan, umumnya pemberkasan 2 jam sebelumnya dokter praktik. Tetapi situasi ini tentunya dapat ditolerir. Kan bukan kekeliruan pasien.


Saya suka dengan servis petugas RS Hermina Depok (termasuk RSCM) yang sepanjang saya jadi pasien terus dilayani dengan ramah. Saya tidak alami sama seperti yang saya baca di berita-berita. Termasuk juga terus memperingatkan agenda kontrol saya.


Datang di RS Hermina Depok, saya diadang petugas. "Minta maaf bu, maskernya ditukar, gunakan masker bedah semacam ini," tuturnya sekalian menunjuk masker yang digunakannya.


Saya memang menggunakan masker kain serta face shield. Saya tidak paham jika ada pembatasan memakai masker kecuali masker klinis.


"Tetapi kan saya gunakan face shield," kata saya. Tetap oleh petugas saya tidak diperbolehkan masuk sebelumnya menukar masker.


"Ibu ada stok? Jika tidak ada ibu dapat beli ke apotek samping kiri sana," tuturnya.


Saya juga mengikut instruksinya, lalu beli masker yang dihargai Rp3500. Sayang, maskernya bukan yang jilbab, tetapi yang dihubungkan di telinga. Jadi cukup repot menggunakannya sebab saya gunakan hijab.


Sesudah saya menggunakan masker bedah dengan melapisi masker kain (sebab malas membuka), petugas juga lakukan skrining. Sebab temperatur badan saya normal, hijab saya juga ditempeli merek hijau yang bermakna aman. Lalu dikasih nomor antrean untuk ke pemberkasan.



Dokumen individu Saya lihat pengunjung yang menggunakan masker kecuali masker bedah diharap untuk menukar masker bedah.


Saya jadi bertanya semenjak kapan masker kain tidak boleh dipakai, terutamanya di lingkungan rumah sakit? Setahu saya masker yang tidak boleh yang tipe scuba serta buff. Atau saya tertinggal informasi? Tidak memperhatikan perubahan terbaru?


Bulan kemarin agenda kontrol saya sich, tetapi terlewati sebab lupa serta bertepatan ada jadwal pekerjaan yang perlu diiringi. Jadi saya tidak paham apa telah ada pembatasan?


Apa masker kain tidak aman menahan penyebaran Covid-19? Setahu saya, WHO memang tidak mereferensikan masker tipe scuba serta buff, tetapi masker kain? Apa sebab masker kain yang saya gunakan cuman 1 susunan?


Sesudah saya kasak kusuk, menanyakan ke petugas serta perawat, rupanya faksi rumah sakit memang larang pasien atau pengiringnya memakai masker kain atau masker kecuali standard klinis.


"Telah 2 bulan ini bu," kata petugas. Oh...patut saya baru mengetahui.


Sesudah saya bertanya lagi kenapa masker kain tidak boleh, faktanya untuk mempererat penjagaan penyebaran Covid-19 untuk kebaikan bersama-sama.


Masker kain memang mempunyai perlindungan dari droplet, tetapi kecil. Jadi, masih berefek tinggi penyebarannya.


"Pasien rawat jalan atau pengiringnya harus gunakan masker standard atau masker bedah," jelas petugas sekalian menunjuk spanduk larangan memakai masker kecuali masker bedah.


Kebijaksanaan baru ini harus dipatuhi pasien rawat inap, rawat jalan, atau pengiring pasien sepanjang ada di lingkungan rumah sakit.


Ini ditujukan jadi wujud kesungguhan disiplin prosedur kesehatan yang bisa membuat perlindungan tenaga kesehatan, pasien, pegawai rumah sakit, serta otomatis ke warga.


Seluruhnya kebijaksanaan itu untuk membuat perlindungan pasien dari penyebaran penyakit sepanjang ada di rumah sakit. Termasuk juga membuat perlindungan tenaga kesehatan yang bekerja. Jadi, sama-sama membuat perlindungan, membuat perlindungan tenaga kesehatan serta membuat perlindungan warga.


Pemakaian masker kain kurang efisien menahan penyebaran Covid-19 sebab tidak dapat memproteksi masuknya seluruhnya partikel. Karena itu, cuman dapat dipakai jadi opsi paling akhir serta sebisa mungkin saja memakai pelindung muka.


"Kok saat ini tidak boleh?" bertanya saya.


Petugas menerangkan, bila awalnya masker kain diizinkan sebab saat itu harga masker bedah mahal serta tidak dapat dijangkau, karena itu jadi pilihan masker kain.


"Jika saat ini kan harga masker bedah telah murah, harga dapat dijangkau, gampang didapat. Apalagi lebih aman dibandingkan masker kain," tuturnya. Saya juga manggut-manggut memahami.


Masker bedah ini punyai kekuatan tangkap droplet atau bintik dahak supaya tidak masuk langsung ke pernafasan. Susunan kain masker ini dapat juga memfilter droplet sebelumnya capai hidung serta mulut.


Untuk pemakaian masker bedah, warga diharap langsung membuangnya sesudah 1x gunakan dalam satu hari.


Bagaimana dengan di rumah sakit lain apakah mengaplikasikan ketentuan yang serupa? Sangkaan saya sich sama. Ya tidak jadi masalah untuk saya sepanjang maksudnya buat kebaikan serta kesehatan bersama-sama. Bukan demikian?




Postingan populer dari blog ini

As the Smithsonian equipments as much as introduce the Nationwide Gallery

to become created during tune compared

The examine, published as a preprint